Mengatasi Selip dan Hydroplaning Saat Cuaca Hujan
Hydroplaning adalah kondisi yang terjadi bilamana air di hadapan ban mobil anda terbentuk lebih cepat dari berat kendaraan Anda. Tekanan air menyebabkan ban (dan mobil secara keseluruhan) tergelincir di lapisan tipis air antara ban dan jalanan. Mobil akan terasa mengambang, karena genangan air masuk melalui sela-sela alur ban dan mengangkat mobil.
Beberapa tips dibawah ini dapat mencegah dan mengurangi dampak bahaya dari Skidding dan hydroplaning.
- Cegah Selip (Skidding) dengan melaju perlahan dan lebih waspada, terutama ketika melaui tikungan. Putar kemudi dan injak rem dengan perlahan. Saat ingin berhenti atau melambat, jangan melakukan hard braking (rem mendadak / menjejak rem dengan kencang), karena akan menyebabkan roda terkunci dan berresiko selip. Pertahankan untuk memberikan tekanan lembut pada pedal rem.
- Jika Anda merasakan mobil Anda Selip, tetap kalem, angkat kaki anda dari pedal gas, arahkan dengan hati-hati bagian depan kendaraan ke arah yang anda inginkan. (posisi aman). Untuk mobil yang tidak memiliki ‘ABS’—anti-lock braking system, hindari menginjak pedal rem. Tetap waspada hingga bagian belakang mobil anda mengarah sejajar dengan bagian depan. Untuk mobil ber-ABS, Anda dapat menginjak rem dengan perlahan sambil mengurangin efek tergelincir atau selip ini.
- Hindari hydroplaning dengan menjaga atau mengatur tekanan ban mobil anda dengan benar. Kurangi sedikit (antara 2-3Psi) tekanan ban saat jalan basah / cuaca hujan, agar ban lebih menapak pada aspal. Perhatikan pula kembang atau alur ban dalam kondisi yang baik. Jangan tunda untuk segera mengganti ban yang sudah aus atau menipis. Melambat lah saat menjumpai jalan yang benar-benar basah, serta hindarilah lumpur yang mungkin tercecer. Dapat pula Anda mengikuti jejak ban yang ditinggalkan mobil di depan Anda. Ini memudahkan anda melalui jalur yang lebih bersih.
- Jika anda merasakan mobil anda terangkat karena efek hydroplaning, jangan mengerem mendadak. Hal tersebut dapat menyebabkan mobil anda terlempar dan tergelincir. Angkat kaki dari pedal gas hingga mobil melambat dan anda dapat merasakan mobil telah menapak pada permukaan aspal. Jika ingin berhenti atau harus menginjak rem, lakukan perlahan dengan sedikit pumping (‘mengkocok’) rem. Namun jika mobil anda telah dilengkapi ABS, cukup injak rem dengan normal, makan system akan bekerja ‘mengkocok’ lebih efektif dari kaki manusia.
- Pengemudi yang difensif mampu menjaga dan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan yang basah. Cukup dengan tidak melaju kencang adalah cara efektif menghindari kondisi bahaya dari Skidding dan Hydroplaning.
- Budaya Safetybelt
- Pengemudi Remaja Memakai Safetybelt, Sayangnya Penumpang Remaja Tidak Sadar untuk Memakainya.
- Mayoritas pengemudi remaja sudah sadar memakai seat belts saat berkendara. Namun data baru yang mengejutkan menunjukkan sejauh ini penumpang remaja kurang berkesadaran memakai sabuk keamanan.
- Penemuan tersebut dinyatakan “American Journal of Preventive Medicine” dalam riset-nya di bulan September 2008. Penelitian tersebut menunjukan terdapat ketimpangan yang signifikan pada pendidikan publik dalam upaya mengurangi kematian remaja berkendara. Disaat banyak Negara bagian (di Amerika Serikat) meningkkatkan hokum pembatasan terhadap pengemudi remaja, perhatian kepada penumpang remaja yang tidak mengemudi cenderung kurang mendapat perhatian.
- Di Amerika Serikat kecelakaan kendaraan bermotor ditengarai sebgai penyebab utama kematian pada usia remaja. Jumlahnya mencapai hampir 5.000 jiwa melayang dan lebih dari 400.000 korban luka per-tahun, biasanya mereka berusia 16 tahun atau lebih tua. Angka kecelakaan pada remaja tersebut 4 kali lipat lebih tinggi daripada kecelakaan pada orang dewasa.
- Penelitian juga menunjukkan sesungguhnya tak hanya pengemudi remaja yang berada dalam ancaman – 40 persen kecelakaan kendaraan bermotor pada remaja melibatkan penumpang (selain pengemudi). Peneliti dari Meharry Medical College di Nashville menganalisa data dari survey National Youth Risk Behavior (tahun 2001-2003) menunjukan kecenderungan perilaku pada sekitar 12.731 remaja berusia 16 tahun keatas (baik kulit hitam, putih maupun Hispanic). Penelitian itu menunjukan bahwa 59 persen pelajar selalu menggunakan Seatbelt saat mengemudi, namun hanya 42 persen dari mereka selalu menggunakan seatbelt saat menjadi penumpang. Hanya satu dari tiga pelajar menyatakan dirinya selalu memakai seat belt, baik saat mengemudi atau saat menjadi penumpang.
- Penelitian tersebut juga memetakan perbedaan gender, ras dan tingkat sekolah para remaja. Namun dari keseluruhan kategori menunjukan para penumpang selalu lebih rendah (antara 10-21 persen) kesadarannya dalam memakai seat belt.
- Diantara remaja perempuan 67 persennya menggunakan seat belt saaat mengemudi, namun angkanya turun cukup jauh menjadi hanya 46 persen yang menggunakan seat belt saat menjadi penumpang. Remaja laki-laki yang memakai seat belt saat mengemudi mencakup 52 persen, sedangkan saat menjadi penumpang hanya 38 persennya yang memakai seat belt.
- Dari segi rasial, remaja keturunan kulit hitam memiliki kesadaran bersabuk keselamatan hanya 37 persen. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan keturunan kulit putih dan hispanik yang sadar untuk menggunakan seat belt sebanyak 42 persen.
- Dari sisi kognitif (kepandaian), data menunjukkan juga bahwa remaja yang ‘berpredikat nilai’, A dan B di sekolahnya lebih sadar menggunakan sabuk keselamatan dibandingkan dengan pelajar yang hanya mendapat C atau dibawahnya. Namun tetap saja terdapat perbedaan cukup jauh dalam perbandingan antara pengemudi dan penumpang. 70 persen pelajar ‘grade A’ menggunakan seat belt saat mengemudi, namun hanya 50 persen dari mereka menggunakan seat belt saat menjadi penumpang.
- Jadi saatnya kita membangun kesadaaran dalam pentingnya penggunaan Seat belt atau Safety belt (sabuk keselamatan) saat berkendara. Baik saat menjadi pengemudi maupun saat hanya menjadi penumpang.
- Berbagai penelitian telah menunjukan dampak positif dari penggunaan seat belt. Dimana penumpang dan pengemudi dapat terhindar dari cedera fatal maupun kematian jika menggunakan Seat belt. Sebaliknya penumpang yang tidak menggunakan seat belt cederung mendapatkan cedera serius saat terjadi kecelakaan. Tidak sedikit penumpang atau pengemudi yang tidak menggunakan seat belt dapat membahayakan penumpang lain karena adanya ‘efek ping-pong’ saaat terjadi tabrakan hebat. Karena tanpa safetybelt tubuh kita dapat membentur atau mendorong penumpang lain saat terjadi guncangan, dan hal itulah yang menyebabkan cedera semakin parah. (sumber : nasmoco.co.id)
info ter-update mobil toyota surabaya tetap di caritoyota dan harga toyota surabaya ter-update di menu price list

